TUGAS
UJIAN TENGAH SEMESTER
Disusun
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah TIK Pendidikan
Dosen Pengampu
Dr.
Danang Tandyonomanu, M.Si.
Oleh :
Suhariyono
Nim :
137905035
PROGRAM PASCASARJANA (S2)
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah “Penerapan E-Learning di Indonesia” ini tepat pada waktunya .
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu
tugas Ujian Tengah Semester (UTS) Mata Kuliah TIK Pendidikan pada semester
ganjil. penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penyusunan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, tetapi keinginan dan motivasi baik, selalu
menjadi bekal bagi penulis. Kekurangan adalah merupakan proses untuk perbaikan
dalam pembelajaran. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk
penyempurnaan penulisan berikutnya.
Atas
perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi semuanya .
Penulis,
ii
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................
1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah
.............................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN
.................................................................................
3
2.1
Kendala Penerapan e-Learning di Indonesia ....................................... 3
2.2 Interaksi
dalam pembelajaran e-learning............................................ 4
2.3
Pendidikan
perlu mempertimbangkan e-learning ................................
5
2.4 Kelemahan pemanfaatan e-learning dan upaya
Teknolog Pendidikan
dalam mengatasinya........................................................................ 7
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 8
3.1 Kesimpulan
.....................................................................................
8
DAFTAR REFERENSI ................................................................................ 8
iii
PENERAPAN E-LEARNING
DI INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sangat pesat dewasa ini menyebabkan semakin terbukanya area pembelajaran,
area tempat belajar, mencari dan mempelajari ilmu baru. Orang tidak lagi hanya
bisa mencari sumber bacaan dari buku, koran, majalah tetapi bisa kita dapatkan
dari area virtual yang ada di sekeliling kita yaitu di dunia maya (internet)
Mudahnya akses informasi dan teknologi
lambat laun akan menggeser peran buku, majalah dan koran. Hal ini secara tidak
langsung juga akan berimbas pada peran pengajar dalam penyampaian materi
pelajaran.
Kehadiran internet telah memberikan dampak
yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan
dimensi kehidupan. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era
globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubung
dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau
kebangsaan.
Melalui internet orang dapat mengakses
informasi dalam berbagai bidang dengan begitu mudah. Hal ini menjadikan
keberadaan internet pada masa kini sebagai satu kebutuhan pokok manusia modern
dalam menghadapi berbagai tantangan global, yang mana salah satunya berguna
dalam mempengaruhi dalam metode pembelajaran.
Metode pembelajaran dengan berbasis pada
jaringan internet bukan merupakan hal baru dalam pembelajaran. E-learning
merupakan salah satu contoh bagaimana penerapan metode pembelajaran dengan
berbasis pada jaringan internet.
Sistem
pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris:
Electronic learning disingkat E-learning) dapat
didefinisikan sebagai sebuah
1
bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang
pendidikan dalam bentuk
sekolah maya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis
dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner
atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas
untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru
secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu
pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah
program studi atau
program pendidikan. (Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang menjadi kendala
dan kemungkinan yang muncul pada penerapan e-learning di Indonesia ? Bagaimanakah mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan e-learning di
Indonesia ?
2. Bagaimanakah
mengoptimalkan aspek interaksi, sehingga aspek interaktivitas pada pembelajaran
tatap muka (face-to-face) dapat tercapai?
3. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning ? Bagaimana dengan ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini ?
4. Pemanfaatan e-learning ditengarai akan
menyebabkan perilaku penyendiri, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di
lingkungannya. Bagaimana upaya teknolog pembelajaran dalam mengatasi
kemungkinan tersebut ?
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Kendala penerapan e-learning di
Indonesia
Menurut Helmy Anam, Head
of Marketing Communication Department PT Acer Indonesia di gedung Fakultas
Kedokteran UGM, Kamis (21/8/2008) ada 3 (tiga) kendala dalam penerapan
e-learning yaitu :
1) Kesiapan infrastruktur
2) Kesiapan dosen dan mahasiswa
3) Faktor budaya
Dari segi insfrastruktur
misalnya, diperlukan dukungan Pemerintah yang lebih intensif agar penerapan TI
bisa berjalan maksimal. Sebab
e-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan yang handal, dan teknologi
yang tepat. Akan tetapi, ketersediaaan infrastruktur dan teknologi ini masih
belum memadai bagi beberapa institusi yang akan menerapkannya.
Dari
kesiapan SDM, SDM di sini meliputi pengajar (guru/dosen) dan siswa/mahasiswa.
Masih banyak pengajar, terutama pengajar yang lama belum bisa menggunakan
e-learning dalam pembelajaran karena mereka memang belum pernah mengenal apa
itu e-learning dan karena sudah lamanya mereka menggunakan sistem klasik ini.
Dari siswa/mahasiswanya pun masih banyak yang belum bisa menggunakan e-learning
secara maksimal. Hal itu karena mereka masih menggunakan cara klasik yang
diajarkan oleh guru mereka sebelumnya.
Kemudian dari faktor
budaya, ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu diubah agar kalangan akademis
terbiasa dengan metode pembelajaran berbasis TI.
Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar
mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pelatihan melalui komputer,
dimana hal ini baru dimiliki oleh sebagian kecil sumber daya manusia kita.
Penerapan e-learning sering
menimbulkan perdebatan dikalangan masyarakat pembelajar.
3
Ada beberapa
kemungkinan yang muncul, jika
e-learning di pakai sebagai sumber belajar, hal itu seperti kritik (Bullen,
2010; Beam, 2007) diantaranya adalah :
1) Kurangnya
interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar siswa itu sendiri.
Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses
belajar dan mengajar;
2) Kecenderungan
mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek
bisnis/komersial;
3) Proses
belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;
4) Berubahnya
peran pendidik dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional,
kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
5) Siswa yang tidak mempunyai motivasi
belajar yang tinggi cenderung gagal;
6) Tidak
semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan
masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);
7) Kurangnya
tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet; dan
8) Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
2.2 Interaksi
dalam pembelajaran e-learning
Interaksi
merupakan bagian yang terpenting dalam pembelajaran. Untuk
mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada
pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai, maka penggunaan
E-Learning bisa dikombinasikan dengan cara belajar konvensional (tatap muka)
atau dikenal dengan istilah Blended
Learning. Dalam Blended
Learning, penggunaan E-Learning bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
4
Berapa bagiankah pembelajaran yang akan dilakukan
secara on-line
dan berapa bagian yang akan off-line.
Dosen mengunggah materi ke dalam sistem, kemudian
mahasiswa secara mandiri bisa belajar dari materi tersebut. Dengan mekanisme
seperti ini nantinya yang belajar itu mahasiswa, bukan dosennya. Seringkali
sebelum kuliah dosen sibuk menyiapkan presentasi dan bahan lain, kemudian
datang ke kelas dan mahasiswa duduk mendengarkan. Karakteristik mahasiswa di
kelas pun beragam, ada yang aktif, ada juga yang biasa saja. Keberagaman
karakter ini diharapkan bisa diakomodir dengan metode Blended Learning.
2.3 Pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning
Kebijakan
e-learning sesuai Rencana Strategis Pendidikan dari Departemen Pendidikan
Nasional (DEPDIKNAS) 2009-2014 adalah: “Pengembangan pembelajaran jarak jauh
(distance learning) di perguruan tinggi, dengan proyek percontohan pada
beberapa perguruan tinggi dan pusat pelatihan hingga tahun 2009, yaitu ITB,
ITS, UGM, IPB, UI, UNRI, UNDANA, UNHAS, PENS, dan POLMAL. Diseminasi proyek ini
akan dikembangkan pada UNLAM, UM, UNY, UNP, UNHALU, UNCEN dan PT-PT lainnya.”
Menurut Djaja Sardjana dalam Kebijakan e-learning Perguruan Tinggi pada
masa datang menyarankan memakai kerangka kerja (framework) dari Gellman-Danley
and Fetzner (2008) sebagai berikut :
|
Policy Area
|
Key Issues
|
|
Academic
|
Calendar,
Course integrity, Transferability, Transcripts, Student/Course evaluation,
Admission standards, Curriculum/Course approval, Accreditation, Class
cancellations , Course/Program/Degree availability, Recruiting/Marketing
|
|
Governance/Administration/Fiscal
|
Tuition
rate, Technology fee, FTE’s, Administration cost, State fiscal regulations,
Tuition disbursement, Space, Single versus multiple board oversight, Staffing
|
|
Faculty
|
Compensation
and workload, Development incentives, Faculty training, Congruence with
existing union contracts, Class monitoring, Faculty support, Faculty
evaluation
|
|
Legal
|
Intellectual
property, Faculty, Student and institutional liability
|
|
Student
Support Services
|
Advisement,
Counseling, Library access, Materials delivery, Student training, Test
proctoring, Videotaping, Computer accounts, Registration, Financial aid, Labs
|
|
Technical
|
Systems
reliability, Connectivity/access, Hardware/software, Setup concerns,
Infrastructure, Technical support (staffing), Scheduling, Costs
|
|
Cultural
|
Adoption
of innovations, Acceptance of on-line/distance teaching, Understanding of
distance education (what works at a distance), Organizational values
|
Sedangkan
“Policy Analysis Framework” untuk hirarki kebijakannya dapat
menggunakan model sebagai berikut:
|
Policy Area
|
Description
|
|
Faculty
(including Continuing Education and Cooperative Extension)
|
Rewards
(e.g., stipends, promotion and tenure, merit increases, etc.); Support (e.g.,
student help, technical assistance, training, etc.); Opportunities to learn
about technology and new applications (e.g., release time, training, etc.);
Intellectual property (e.g. ownership of materials, copyright, etc.)
|
|
Students/Participants
|
Support
(e.g., access to technology, library resources, registration, advising,
financial aid, etc.); Requirements and records (e.g., residency requirements,
acceptance of courses from other places, transfer of credit, continuing
education, etc.)
|
|
Management
and Organization
|
Tuition
and fee structure; Funding formula;Collaboration (e.g., with other
Departments, units, institutions, consortia, intra-and inter-institutional,
service areas, etc.); Resources (e.g., financial resources to support
distance education, equipment, new technologies, etc.); Curricula/individual
courses (e.g., delivery modes, course/program selection, plans to develop,
individual sequences, course development, entire program delivery,
interactivity requirements, test requirements, contact hour definitions,
etc.)
|
E-learning
merupakan lompatan untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan
dunia internasional.
"Keuntungan utama dari sistem
pembelajaran online adalah potensinya untuk menjangkau mahasiswa dalam jumlah
yang berlipatganda dibanding dengan sistem pembelajaran konvensional dan dengan
jaminan standar kualitas pengajar minimal yang memadai. Pada skala besar, biaya
per mahasiswa akan sangat rendah. Ini tentu akan membantu terbukanya akses yang
makin lebar bagi mereka yang sebelumnya tidak dapat mengeyam pendidikan
tinggi,"
6
(Wapres Budiono pada saat memberi kuliah perdana di Universitas Surya
Jakarta, Selasa, 3/9/2013)
2.4 Kelemahan pemanfaatan e-learning dan upaya
Teknolog Pendidikan dalam mengatasinya.
Kaitannya
dengan kekurangan pembelajaran e-learning, diantaranya kurangnya
interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar siswa itu sendiri.
Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses
belajar dan mengajar; dan ditengarai akan menyebabkan perilaku penyendiri,
tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya.
Siswa asyik dengan
dunia barunya yang maya, pertemanan global melalui chatting, messenger, dan game online merubah pola
interaksi dalam masyarakat. Dan pada akhirnya pendidikan akan melahirkan proses
dehumanisasi pada peserta didik, karena fokus pendidikan lebih pada pencetakan
tenaga-tenaga kerja terampil pemasok dunia industri dan hanya melahirkan “robot
manusia”.
Namun demikian kekurangan diatas tidak dapat kita jadikan alasan agar pembelajaran e-learning
dihentikan. Teknolog
pendidikan harus dapat mencarikan solusinya, sesuai dengan perannya yakni
mengatasi masalah dalam belajar.
Untuk mereduksi
dampak negatif tersebut, perlu dikembangkan metode pembelajaran kooperatif,
yaitu metode yang memberi motivasi pada siswa untuk berinteraksi, berbagi dan
bekerja sama dalam kelompok (peer
group). Tujuan metode ini selain prestasi akademis juga
pengembangan social skill siswa.
7
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari
hasil pembahasan
diatas dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran e-learning tidak dapat kita hindari. Tuntutan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi sangat mendorong
pembelajaran e-learning tetap eksis di dunia pendidikan. Segala kendala yang
ditemui dilapangan akan menjadi bahan kajian bagi para ilmuan teknologi pendidikan. Semoga kehadiran
pembelajaran e-learning lebih dapat dirasakan masyarakat dan pemerintah
senantiasa mempunyai komitmen dalam memajukan pendidikan di Indonesia saat ini.
Daftar Referensi
· E-Learning. (2012, Maret 2).
Retrieved 2 3, 2012, from Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/E-learning.
·
http://edelearning.com/2013/04/02/media-pembelajaran/
Djaja Sardjana, (2013) “Kebijakan
E-Learning Perguruan Tinggi Pada Masa Datang”
·
http://edelearning.com/2011/04/28/media-pembelajaran/
Maya Dewi Mustika, (2011) “ Masa Depan
E-Learning di Dunia Pendidikan “
8
