Sabtu, 18 Januari 2014



TUGAS
UJIAN TENGAH SEMESTER



Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah TIK Pendidikan




Dosen Pengampu
Dr. Danang Tandyonomanu, M.Si.










Oleh : Suhariyono
Nim : 137905035



PROGRAM PASCASARJANA (S2)
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah “Penerapan E-Learning di Indonesia”  ini tepat pada waktunya .
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Ujian Tengah Semester (UTS) Mata Kuliah TIK Pendidikan pada semester ganjil. penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, tetapi keinginan dan motivasi baik, selalu menjadi bekal bagi penulis. Kekurangan adalah merupakan proses untuk perbaikan dalam pembelajaran. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan penulisan berikutnya.
Atas perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya .

Penulis,










ii
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .......................................................................................    i
KATA PENGANTAR .....................................................................................    ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................   iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................    1
    A. Latar Belakang ..................................................................................    1
    B. Rumusan Masalah .............................................................................    2
BAB II PEMBAHASAN  ................................................................................. 3
  2.1  Kendala Penerapan e-Learning di Indonesia .......................................   3      
  2.2  Interaksi dalam pembelajaran e-learning............................................   4
       2.3  Pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning ................................   5
       2.4  Kelemahan pemanfaatan e-learning dan upaya Teknolog Pendidikan
              dalam mengatasinya........................................................................    7

BAB III PENUTUP .....................................................................................   8
  3.1  Kesimpulan .....................................................................................   8
DAFTAR REFERENSI ................................................................................    8



iii


PENERAPAN E-LEARNING DI INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini menyebabkan semakin terbukanya area pembelajaran, area tempat belajar, mencari dan mempelajari ilmu baru. Orang tidak lagi hanya bisa mencari sumber bacaan dari buku, koran, majalah tetapi bisa kita dapatkan dari area virtual yang ada di sekeliling kita yaitu di dunia maya (internet)
      Mudahnya akses informasi dan teknologi lambat laun akan menggeser peran buku, majalah dan koran. Hal ini secara tidak langsung juga akan berimbas pada peran pengajar dalam penyampaian materi pelajaran.
      Kehadiran internet telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubung dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan.
      Melalui internet orang dapat mengakses informasi dalam berbagai bidang dengan begitu mudah. Hal ini menjadikan keberadaan internet pada masa kini sebagai satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan global, yang mana salah satunya berguna dalam mempengaruhi dalam metode pembelajaran.
      Metode pembelajaran dengan berbasis pada jaringan internet bukan merupakan hal baru dalam pembelajaran. E-learning merupakan salah satu contoh bagaimana penerapan metode pembelajaran dengan berbasis pada jaringan internet.
                Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) dapat didefinisikan sebagai sebuah
1
bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk
sekolah maya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.                                    Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

B. RUMUSAN MASALAH
1.  Apakah yang menjadi kendala dan kemungkinan yang muncul pada penerapan e-learning di  Indonesia ? Bagaimanakah mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan e-learning di Indonesia ?
2. Bagaimanakah mengoptimalkan aspek interaksi, sehingga aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai?
3.  Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning ? Bagaimana dengan ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini ?

4.  Pemanfaatan e-learning ditengarai akan menyebabkan perilaku penyendiri, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya. Bagaimana upaya teknolog pembelajaran dalam mengatasi kemungkinan tersebut ?










2
BAB II
PEMBAHASAN


    2.1  Kendala penerapan e-learning di Indonesia

            Menurut Helmy Anam, Head of Marketing Communication Department PT Acer Indonesia di gedung Fakultas Kedokteran UGM, Kamis (21/8/2008) ada 3 (tiga) kendala dalam penerapan e-learning yaitu :
1) Kesiapan infrastruktur
2) Kesiapan dosen dan mahasiswa
3) Faktor budaya
            Dari segi insfrastruktur misalnya, diperlukan dukungan Pemerintah yang lebih intensif agar penerapan TI bisa berjalan maksimal.                                  Sebab e-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan yang handal, dan teknologi yang tepat. Akan tetapi, ketersediaaan infrastruktur dan teknologi ini masih belum memadai bagi beberapa institusi yang akan menerapkannya.
            Dari kesiapan SDM, SDM di sini meliputi pengajar (guru/dosen) dan siswa/mahasiswa. Masih banyak pengajar, terutama pengajar yang lama belum bisa menggunakan e-learning dalam pembelajaran karena mereka memang belum pernah mengenal apa itu e-learning dan karena sudah lamanya mereka menggunakan sistem klasik ini. Dari siswa/mahasiswanya pun masih banyak yang belum bisa menggunakan e-learning secara maksimal. Hal itu karena mereka masih menggunakan cara klasik yang diajarkan oleh guru mereka sebelumnya.
            Kemudian dari faktor budaya, ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu diubah agar kalangan akademis terbiasa dengan metode pembelajaran berbasis TI.
Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pelatihan melalui komputer, dimana hal ini baru dimiliki oleh sebagian kecil sumber daya manusia kita.
Penerapan e-learning sering menimbulkan perdebatan dikalangan masyarakat pembelajar.

3
Ada beberapa kemungkinan yang muncul, jika e-learning di pakai sebagai sumber belajar, hal itu seperti kritik (Bullen, 2010; Beam, 2007) diantaranya adalah :
1) Kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;
2) Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan  sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial;
3) Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;
4) Berubahnya peran pendidik dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
5) Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal;
6) Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);
7) Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet; dan
8) Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
 2.2  Interaksi dalam pembelajaran e-learning
                   Interaksi merupakan bagian yang terpenting dalam pembelajaran. Untuk mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai, maka penggunaan E-Learning bisa dikombinasikan dengan cara belajar konvensional (tatap muka) atau dikenal dengan istilah Blended Learning. Dalam Blended Learning, penggunaan E-Learning bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

4
                   Berapa bagiankah pembelajaran yang akan dilakukan secara on-line dan berapa bagian yang akan off-line.
                   Dosen mengunggah materi ke dalam sistem, kemudian mahasiswa secara mandiri bisa belajar dari materi tersebut. Dengan mekanisme seperti ini nantinya yang belajar itu mahasiswa, bukan dosennya. Seringkali sebelum kuliah dosen sibuk menyiapkan presentasi dan bahan lain, kemudian datang ke kelas dan mahasiswa duduk mendengarkan. Karakteristik mahasiswa di kelas pun beragam, ada yang aktif, ada juga yang biasa saja. Keberagaman karakter ini diharapkan bisa diakomodir dengan metode Blended Learning.
2.3  Pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning
            Kebijakan e-learning sesuai Rencana Strategis Pendidikan dari Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) 2009-2014 adalah: “Pengembangan pembelajaran jarak jauh (distance learning) di perguruan tinggi, dengan proyek percontohan pada beberapa perguruan tinggi dan pusat pelatihan hingga tahun 2009, yaitu ITB, ITS, UGM, IPB, UI, UNRI, UNDANA, UNHAS, PENS, dan POLMAL. Diseminasi proyek ini akan dikembangkan pada UNLAM, UM, UNY, UNP, UNHALU, UNCEN dan PT-PT lainnya.”
Menurut Djaja Sardjana dalam Kebijakan e-learning Perguruan Tinggi pada masa datang menyarankan memakai kerangka kerja (framework) dari Gellman-Danley and Fetzner (2008) sebagai berikut :
Policy Area
Key Issues
Academic
Calendar, Course integrity, Transferability, Transcripts, Student/Course evaluation, Admission standards, Curriculum/Course approval, Accreditation, Class cancellations , Course/Program/Degree availability, Recruiting/Marketing
Governance/Administration/Fiscal
Tuition rate, Technology fee, FTE’s, Administration cost, State fiscal regulations, Tuition disbursement, Space, Single versus multiple board oversight, Staffing
Faculty
Compensation and workload, Development incentives, Faculty training, Congruence with existing union contracts, Class monitoring, Faculty support, Faculty evaluation
Legal
Intellectual property, Faculty, Student and institutional liability
Student Support Services
Advisement, Counseling, Library access, Materials delivery, Student training, Test proctoring, Videotaping, Computer accounts, Registration, Financial aid, Labs
Technical
Systems reliability, Connectivity/access, Hardware/software, Setup concerns, Infrastructure, Technical support (staffing), Scheduling, Costs
Cultural
Adoption of innovations, Acceptance of on-line/distance teaching, Understanding of distance education (what works at a distance), Organizational values
Sedangkan “Policy Analysis Framework”  untuk  hirarki kebijakannya dapat menggunakan  model sebagai berikut:
Policy Area
Description
Faculty (including Continuing Education and Cooperative Extension)
Rewards (e.g., stipends, promotion and tenure, merit increases, etc.); Support (e.g., student help, technical assistance, training, etc.); Opportunities to learn about technology and new applications (e.g., release time, training, etc.); Intellectual property (e.g. ownership of materials, copyright, etc.)
Students/Participants
Support (e.g., access to technology, library resources, registration, advising, financial aid, etc.); Requirements and records (e.g., residency requirements, acceptance of courses from other places, transfer of credit, continuing education, etc.)
Management and Organization
Tuition and fee structure; Funding formula;Collaboration (e.g., with other Departments, units, institutions, consortia, intra-and inter-institutional, service areas, etc.); Resources (e.g., financial resources to support distance education, equipment, new technologies, etc.); Curricula/individual courses (e.g., delivery modes, course/program selection, plans to develop, individual sequences, course development, entire program delivery, interactivity requirements, test requirements, contact hour definitions, etc.)
                   E-learning merupakan lompatan untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan dunia internasional.
              "Keuntungan utama dari sistem pembelajaran online adalah potensinya untuk menjangkau mahasiswa dalam jumlah yang berlipatganda dibanding dengan sistem pembelajaran konvensional dan dengan jaminan standar kualitas pengajar minimal yang memadai. Pada skala besar, biaya per mahasiswa akan sangat rendah. Ini tentu akan membantu terbukanya akses yang makin lebar bagi mereka yang sebelumnya tidak dapat mengeyam pendidikan tinggi,"
6
(Wapres Budiono pada saat memberi kuliah perdana di Universitas Surya Jakarta, Selasa, 3/9/2013)
2.4 Kelemahan pemanfaatan e-learning dan upaya Teknolog Pendidikan dalam       mengatasinya.
                             Kaitannya dengan kekurangan pembelajaran e-learning, diantaranya kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar; dan ditengarai akan menyebabkan perilaku penyendiri, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya.
                             Siswa asyik dengan dunia barunya yang maya, pertemanan global melalui chatting, messenger, dan game online merubah pola interaksi dalam masyarakat. Dan pada akhirnya pendidikan akan melahirkan proses dehumanisasi pada peserta didik, karena fokus pendidikan lebih pada pencetakan tenaga-tenaga kerja terampil pemasok dunia industri dan hanya melahirkan “robot manusia”.
                   Namun demikian kekurangan diatas tidak dapat kita jadikan alasan agar pembelajaran e-learning dihentikan. Teknolog pendidikan harus dapat mencarikan solusinya, sesuai dengan perannya yakni mengatasi masalah dalam belajar.
                             Untuk mereduksi dampak negatif tersebut, perlu dikembangkan metode pembelajaran kooperatif, yaitu metode yang memberi motivasi pada siswa untuk berinteraksi, berbagi dan bekerja sama dalam kelompok (peer group). Tujuan metode ini selain prestasi akademis juga pengembangan social skill siswa.



7
BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
                    Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran e-learning tidak dapat kita hindari. Tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi sangat mendorong pembelajaran e-learning tetap eksis di dunia pendidikan. Segala kendala yang ditemui dilapangan akan menjadi bahan kajian bagi para ilmuan teknologi pendidikan. Semoga kehadiran pembelajaran e-learning lebih dapat dirasakan masyarakat dan pemerintah senantiasa mempunyai komitmen dalam memajukan pendidikan di Indonesia saat ini.

Daftar Referensi
·      E-Learning. (2012, Maret 2). Retrieved 2 3, 2012, from Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/E-learning.
·         http://edelearning.com/2013/04/02/media-pembelajaran/    
                Djaja Sardjana, (2013) “Kebijakan E-Learning Perguruan Tinggi Pada Masa Datang”
·         http://edelearning.com/2011/04/28/media-pembelajaran/   
                Maya Dewi Mustika, (2011) “ Masa Depan E-Learning di Dunia Pendidikan “












8